Apa itu Foto Prewedding ?

Beberapa bulan sebelum melangsungkan akad dan resepsi pernikahan, setiap calon pasangan menikah pasti akan disibukkan oleh berbagai kegiatan persiapan sebelum menikah. Salah satunya misalnya yakni pemotretan foto prewedding.

Meskipun belum ada pemaparan yang jelas terkati kapan pertama kali pemotretan foto prewedding, pada zaman modern seperti sekarang, foto prewedding disebut menjadi tren pernikahan (pra-nikah) yang dilakukan oleh para calon pasangan menikah.

Apa itu Pemotretan Foto Prewedding?

Pre wedding Photoshoot atau Foto Prewedding adalah pemotretan yang dilakukan calon pasangan menikah yang dilakukan sebelum prosesi akad, upacara adat menikah dan acara resepsi pernikahan. Tidak ada ketentuan kapan waktu foto prewedding, namun biasanya aktivitas ini dilakukan 1 sampai 3 bulan sebelum menikah atau 1-2 bulan baig calon pasangan menikah yang didahului oleh prosesi pertunangan. Foto prewedding diketahui dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik itu secara mandiri atau secara profesional dengan menggunakan jasa fotografer prewedding.

Tema Pemotretan Foto Prewedding

Sebelum membahas lebih jauh tentang tema foto prewedding, ada baiknya calon pasangan menikah mengetahui sebuah narasi dimana foto prewedding bukan merupakan prosesi wajib yang harus dilakukan sebelum melangsungkan pernikahan. Meskipun sering disebut bukan merupakan sebuah keseharusan, pelaksanaan pemotretan foto prewedding bagi mereka yang melakukan tentu dilandaskan sebuah tujuan. Secara sederhana, tujuan foto prewedding bagi mereka yang melakukannya yakni;

  • Menambah koleksi foto tematik bersama pasangan
  • Menunjukkan latar belakang keluarga (suku dan ras)
  • Arsip untuk undangan pernikahan
  • Elemen yang ditambahkan dalam hiasan dekorasi resepsi pernikahan

Kembali ke bahasan tema foto prewedding, khusus mereka yang melakukan aktivitas ini pasti akan diawali dengan penentuan tema. Tidak ada ketentuan khusus, tema foto prewedding biasanya dipilih secara subjektif oleh para calon pasangan menikah.

Namun, bagi yang calon pasangan menikah yang bingung memilih tema, mereka biasanya mengadopsi beberapa tema populer. Saat ini banyak tema foto prewedding populer yang dapat ditelusuri via internet ataupun media sosial. Beberapa tema foto prewedding diantaranya yakni:

  • Tema prewedding casual
  • Tema foto tradisional
  • Tema prewedding klasik
  • Tema foto formal
  • Tema prewedding natural
Continue Reading Apa itu Foto Prewedding ?
Langkah Mengurus Pernikahan di Bali
Sumber: Putu Ayu Widia Eka Putri

Langkah Mengurus Pernikahan di Bali

Dimana pun terselenggaranya pernikahan pasangan-pasangan di seluruh penjuru dunia, aspek hukum menjadi salah satu syarat sah dari pernikahan yang dilangsungkan. Hal ini juga menjadi kemutlakan di negeri tempat kita tinggal, Indonesia. Di Indonesia, secara lengkap dan lebih spesifik, prosedur pencatatan pernikahan secara sipil diatur dalam Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 (PP No.9/1975) pasal 3 sampai 11. Begitu pula untuk Anda calon mempelai yang memiliki rencana pernikahan di Bali.

Nah, khusus untuk Anda para pasangan calon mempelai yang hendak menyelenggarakan pernikahan di Bali dengan keyakinan agama Hindu, secara ringkas Puspaninglango akan memaparkan prosedurnya pada artikel ini

Melapor Ke Petugas Pencatat Pernikahan di Bali

Bagi para calon mempelai yang hendak melangsungkan pernikahan di Bali, langkah pertama diawali dengan melaporkan rencana pernikahan ke pihak berwenang yakni pegawai pencatat pernikahan di kantor catatan sipil yang sama dengan tempat melangsungkan upacara pernikahan di Bali. Pelaporan sendiri maksimal 10 hari sebelum upacara pernikahan dilangsungkan.

Mengisi Formulir Pencatatan Nikah

Proses pelaporan dalam langkah pertama biasanya diteruskan ke tahap selanjutnya yakni pengisian formulir pencatatan nikah di waktu bersamaan. Proses pengisian formulir pencatatan pernikahan di Bali memiliki syarat administrasi berupa dokumen-dokumen yang harus disertakan seperti;

  • Surat pengantar dari kelurahan calon mempelai
  • Foto copy KTP, kartu keluarga, akte kelahiran
  • Surat bukti kewarganegaraan bagi WNA (warga negara asing),
  • Pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 4 lembar
  • Surat keterangan Sudhiwadhani (untuk mereka yang belum masuk Hindu)
  • Ijin tertulis dari pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Hukum dan Ham / Panglima TNI/ Kapolri, jika salah seorang atau keduanya anggota TNI atau POLRI

Selain dokumen-dokumen yang dicantumkan sebelumnya, para calon mempelai juga wajib membawa sejumlah dokumen tambahan dalam kondisi khusus semisal;

  • Ijin tertulis dari pengadilan untuk mempelai yang belum berumur 21 tahun, atau
  • Ijin tertulis dari pengadilan, surat kematian istri/suami terdahulu, surat cerai, akta kelahiran anak dari perkawinan terdahulu, untuk pernikahan lebih dari satu kali

Khusus bagi calon mempelai yang tidak bisa hadir mengurus formulis pencatatan nikah, wajib juga untuk melampirkan Surat Kuasa Otentik ditulis tangan untuk pihak wakil yang ditunjuk calon mempelai.

Semua dokumen persyaratan akan ditelaah oleh petugas dalam proses verifikasi. Pihak pencatat dalam hal ini dapat menentukan apakah formulir tersebut langsung disahkan atau perlu peninjauan kembali jika dokumen persyaratan dinilai kurang lengkap. Setelah disahkan oleh kantor catatan sipil setempat, para calon mempelai baru dapat melangsungkan upacara pernikahan mereka.

Pelaksanaan Upacara Pernikahan di Bali

Upacara pernikahan Bali atau upacara Samskara Vivaha secara agama dilangsungkan sesuai dengan tradisi setempat. Upacara pernikahan Bali berlangsung pada hari baik yang disepakati oleh kedua belah keluarga mempelai, dipimpin oleh Pinandita (Pendeta) yang disaksikan secara langsung oleh saksi, pihak keluarga dan masyarakat yang hadir. Di dalam upacara pernikahan ini juga hadir pihak pegawai pencatat perkawinan yang ditunjuk kantor catatan sipil

Penandatanganan Akta Perkawinan

Setelah upacara adat pernikahan telah selesai, tahap terakhir adalah penandatanganan akta perkawinan yang disediakan oleh pihak pegawai pencatat perkawinan yang datang. Selesainya penandatanganan akta perkawinan ini memberikan bukti secara hukum pernikahan calon mempelai syah dan tercatat resmi sebagai pasangan suami-istri (pasangan menikah).

Continue Reading Langkah Mengurus Pernikahan di Bali
Payas Bali: Tingkatan & Fungsi
Sumber: Instagram

Payas Bali: Tingkatan & Fungsi

Tidak hanya kaya dengan kekayaaan dan keindahan alamnya, Bali juga dikenal dari kekayaan budayanya. Jika melihat sekeliling wilayah di Indonesia, kekayaan budaya Bali tentu sangat berbeda dengan lainnya bahkan tergolong unik. Keunikan ini mungkin dikarenakan keberadaan budaya Bali yang mayoritas mendapatkan sentuhan dari aspek agama Hindu dibanding budaya lainnya di Indonesia. Bicara tentang keunikan budayanya, tentu ada beragam elemen budaya yang ditampilkan. Misalnya saja pakaian adat masyarakat Bali atau payas bali.

Beberapa dari Anda mungkin hanya mengenal nama Payas Agung sebagai representasi pakaian adat masyarakat Bali. Tidak salah memang, hanya saja jika ditelusuri lebih dalam masih banyak lagi jenis pakaian adat Bali atau Payas Bali yang menjadi representasi busana masyarakat Pulau Dewata.

Dilansir dari beberapa referensi, di bawah ini adalah penjabaran jenis-jenis pakaian adat khas Bali sesuai dengan tingkatan dan fungsinya.

Payas Agung Bali

Payas Agung Pernikahan Bali
Sumber: Instagram

 

Tingkatan tertinggi untuk pakaian payas Bali, Payas Agung merupakan pakaian adat bali yang mewah dan spesial. Spesial dalam hal ini, juga berartikan pakaian ini hanya dipakai saat momen-momen tertentu yang spesial. Momen pernikahan Bali misalnya. Payas Agung ini dipakai untuk pasangan suami-istri yang melangsungkan upacara adat pernikahan bali.

Memadukan warna-warna yang mewakilkan elemen ‘kemewahan’, Busana Payas Agung kental dengan warna merah, emas, dan putih. Di Bali, Payas Agung tidak hanya terdapat satu konsep busana saja. Masing-masing wilayah di Bali memiliki tipe Payas Agungnya sendiri.

Dalam pernikahan Bali, Payas Agung terdiri dari kombinasi kain songket mewah, kamen prada Bali, dan aksesoris lengkap. Kain songket mewah dililitkan menjadi bentuk atasan dan bawahan. Menutupi bagian dada hingga bagian kaki. Dilengkapi juga dengan pemakaian mahkota untuk pengantin pria dan wanita. Aksesoris yang dikenakan seperti kalung, anting, gelang, keris (khusus pria), dan yang lainnya diketahui bernuansa emas. Khusus untuk pengantin pria, beberapa Busana ini juga mengombinasikan lilitan kain songket mewah dengan jas beludru bermotif prada bali. Tidak hanya untuk digunakan untuk acara pernikahan bali (pawiwahan), Payas Agung juga sering digunakan untuk upacara adat penting seperti upacara potong gigi, dan acara adat seremonial tertentu lainnya.

Payas Jangkep

Lamaran di Bali

Berasal dari bahasa Bali ‘Jangkep’ yang berartikan ‘lengkap’, Payas Jangkep merupakan pakaian adat bali dengan busana, aksesoris, dan riasan yang lengkap. Tidak hanya untuk menghadiri acara-acara bersifat formal, busana ini dapat digunakan juga untuk acara seremonial seperti lamaran, upacara kemanusiaan, atau wisuda.

Payas Madya

Payas Bali Madya

Busana ini paling sering dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Memiliki tingkatan pemakaian yang tidak terlalu ketat (fleksibel), Payas Madya memadukan unsur atasan non-formal seperti t-shirt, kemeja, kebaya berwarna-warni dengan bawahan berupa kamen dan saput. Busana ini juga dilengkapi dengan selendang di pinggang untuk mengikat kamen.

Payas Alit Bali

Payas Happy Salma

Sama seperti payas madya yang merupakan pakaian tradisional yang paling sering digunakan oleh masyarakat Bali sehari-hari, Payas Alit biasa digunakan untuk kegiatan peribadatan ke Pura. Busana Payas Bali ini menggunakan nuansa kain putih baik di kemeja pria maupun kebaya wanita. Busana atasan ini turut dipadukan bersama kamen, saput dan selendang di pinggang. Khusus untuk pria, Payas alit dipadukan bersama udang berwarna putih di bagian kepala.

Continue Reading Payas Bali: Tingkatan & Fungsi